Salah satu pertanyaan yang paling mendasar tapi justru
melahirkan perang pemikiran yang sangat dasyhat adalah bisakah
manusiamengetahui kebenaran mutlak?
Pertanyaan yang kedengaran sederhana ini tidak
tanggung-tanggung telah melahirkan perang pemikiran yang dasyhat dimulai dari
sejak orang berfilsafat atau kira-kira dua ribu lima ratus tahun yang lalu
sampai sekarang.
Sebagian orang mungkin berpikir bahwa apa sih gunanya
memikirkan sesuatu yang hanya membuat kepala sakit dan tidak menghasilkan
keuntungan apa-apa?
Dalam kondisi social di Negara kita sekarang ini, yang
berada di naungan imprealisme barat dan kondisi perekonomian yang sangat
memprihatinkan, memikirkan hal-hal seperti itu memeng dianggap hanya pemikiran
orang yang sakit jiwa, atau orang yang malas bekerja, karna tenggelam dalam
pemikiran seperti itu tidk akan menghasilkan keuntungan material .
Akan tetapi mari kita lihat secara sederhana apa perlunya
ikut memikirkan hal-hal seperti itu.
Pertama, manusia dari dulu sampai sekarang selalu
dipusingkan akan kepastian eksistensinya, dalam diri manusia akan selalu timbul
pertanyaan-pertanyaan seperti siapa dia sebenarnya? Apa sih tujuan hidup saya
yang sebenarnya?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut manusia mesti menggunakan
dimensi intelektual dalam dirinya, karna pada dasarnya manusia memiliki rasa
ingin tahu yang sangat tinggi.
Kedua, seluruh tindakan manusia dipengaruhi oleh konsepsinya
terhadap realitas, contoh sederhananya manusia tidak akan minum air dalam gelas
jika dia mengetahui kalau didalamnya terdapat racun, bagitupun dalam realitas
luar, manusia mengambil keyakinan yang kemudian melahirkan tindakan itu
berdasarkan cara pandangnya dalam melihat realitas, misalnya dalam masyarakat
yang menganut paham empiristic individu-individu tersebut akan mempercayai
bahwa tidak ada Tuhan, tidak ada realitas akhir dan karnanya dia akan bertindak
layaknya orang yang tidak mempercayai akhirat.
Dari kedua argumentasi diatas dapat ditarik kesimpulan
mengenai perlunya manusai dalam mengkaji masalah pengetahuan yang mengantarnya
menuju ralitas.
Mari kita membahas tentang masalah yang terdapat dalam
pengetahuan manusia, seperti yang disebutkan diatas yaitu mengenai bisa
tidaknya manusia mengetahui kebenaran yang mutlak.
Salah satu pemikir klasik yang bernama pyrho mengatakan
bahwa manusia tidak mungkin mengetahui sesuatu yang mutlak kebenaraannya,
segala pengetahuan manusia bersifat relative, pyrho mengemukakan alasan bahwa
instrument pengetahuan yang dimiliki manusia hanya ada dua yaitu indrawi dan
akal, namun semua pengetahuan yang dihasilkan oleh indra bersifat relative
karna indra kerap melakukan kesalahan, misalnya jika kita memasukkan kayu yang
lurus kedalam air, maka kayu itu akan kelihatan bengkok inilah salah satu bukti
kalau indra kerap melakukan kesalahan.
Kita mungkin bertanya bagaimana dengan akal? Apakah akal
juga sering melakukan kesalahan? Menurut pyrho akal justru melakukan kesalahan
lebih banyak dari indra, alasannya adalah orang-orang seringkali berdebat
bahkan berperang hanya karena perbedaan pendapat, apabila ada dua pendapat yang
saling bertentangan, maka hal itu tidak keluar dari dua kemungkinan yaitu bisa
jadi salah satu benar dan yang lain salah atau kedua-duanya salah, nah ini
membuktikan bahwa akal manusia juga relative, olehnya itu menurut pyrho manusai
tidak akan pernah mengetahui sesuatu yang mutlak benarnya (itupun kalau memeng
ada).
Mari kita lihat tanggapan pemikir muslim dalam melihat
masalah ini, akan tetapi pertama-tama kita akan mengkritik pendapat pyrho.
Sewaktu dia mengatakan bahwa indra dan akal tidak bisa mengetahui realitas
sebagaimana adanya, kita bisa bertanya dengan apa dia mengetahui bahwa indra
dan akal itu kerap salah? Maka pasti jawabannya adalah dengan akal, kita bisa
bertanya lagi apaka hal itu benar atau salah? Jika salah maka kita kembali ke
pertanyaan pertama, tapi jika benar kita tanyakan lagi pakah dia benar atau
relative? Jika relative maka hal ini tidak dapat dijadikan sebuah kesimpulan,
tapi jika benar maka pyrho telah menggugurkan sendiri argumentasinya.
Kenapa rasio bisa mengetahui kalau pada saat tertentu dia
berbuat kesalahan, itu karena pada rasio terdapat suatu fakultas yang berfungsi
untuk menilai sesuatu itu benar atau salah dan dengan ini juga manusia bisa
mengetahui realitas atau kebenaran yang pasti benarnya, sesuatu itu dalam
filsafat islam disebut dengan “ AL-HALIYYATUL BASITH” atau dalam kajian logika
Aristotelian dikenal dengan Prima Principia.