Selasa, 19 Agustus 2014

Logika - problem pengetahuan

https://www.facebook.com/sci.bongaya/about?section=bio

Salah satu pertanyaan yang paling mendasar tapi justru melahirkan perang pemikiran yang sangat dasyhat adalah bisakah manusiamengetahui kebenaran mutlak?
Pertanyaan yang kedengaran sederhana ini tidak tanggung-tanggung telah melahirkan perang pemikiran yang dasyhat dimulai dari sejak orang berfilsafat atau kira-kira dua ribu lima ratus tahun yang lalu sampai sekarang.
Sebagian orang mungkin berpikir bahwa apa sih gunanya memikirkan sesuatu yang hanya membuat kepala sakit dan tidak menghasilkan keuntungan apa-apa?
Dalam kondisi social di Negara kita sekarang ini, yang berada di naungan imprealisme barat dan kondisi perekonomian yang sangat memprihatinkan, memikirkan hal-hal seperti itu memeng dianggap hanya pemikiran orang yang sakit jiwa, atau orang yang malas bekerja, karna tenggelam dalam pemikiran seperti itu tidk akan menghasilkan keuntungan material .
Akan tetapi mari kita lihat secara sederhana apa perlunya ikut memikirkan hal-hal seperti itu.
Pertama, manusia dari dulu sampai sekarang selalu dipusingkan akan kepastian eksistensinya, dalam diri manusia akan selalu timbul pertanyaan-pertanyaan seperti siapa dia sebenarnya? Apa sih tujuan hidup saya yang sebenarnya?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut manusia mesti menggunakan dimensi intelektual dalam dirinya, karna pada dasarnya manusia memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi.
Kedua, seluruh tindakan manusia dipengaruhi oleh konsepsinya terhadap realitas, contoh sederhananya manusia tidak akan minum air dalam gelas jika dia mengetahui kalau didalamnya terdapat racun, bagitupun dalam realitas luar, manusia mengambil keyakinan yang kemudian melahirkan tindakan itu berdasarkan cara pandangnya dalam melihat realitas, misalnya dalam masyarakat yang menganut paham empiristic individu-individu tersebut akan mempercayai bahwa tidak ada Tuhan, tidak ada realitas akhir dan karnanya dia akan bertindak layaknya orang yang tidak mempercayai akhirat.
Dari kedua argumentasi diatas dapat ditarik kesimpulan mengenai perlunya manusai dalam mengkaji masalah pengetahuan yang mengantarnya menuju ralitas.
Mari kita membahas tentang masalah yang terdapat dalam pengetahuan manusia, seperti yang disebutkan diatas yaitu mengenai bisa tidaknya manusia mengetahui kebenaran yang mutlak.
Salah satu pemikir klasik yang bernama pyrho mengatakan bahwa manusia tidak mungkin mengetahui sesuatu yang mutlak kebenaraannya, segala pengetahuan manusia bersifat relative, pyrho mengemukakan alasan bahwa instrument pengetahuan yang dimiliki manusia hanya ada dua yaitu indrawi dan akal, namun semua pengetahuan yang dihasilkan oleh indra bersifat relative karna indra kerap melakukan kesalahan, misalnya jika kita memasukkan kayu yang lurus kedalam air, maka kayu itu akan kelihatan bengkok inilah salah satu bukti kalau indra kerap melakukan kesalahan.
Kita mungkin bertanya bagaimana dengan akal? Apakah akal juga sering melakukan kesalahan? Menurut pyrho akal justru melakukan kesalahan lebih banyak dari indra, alasannya adalah orang-orang seringkali berdebat bahkan berperang hanya karena perbedaan pendapat, apabila ada dua pendapat yang saling bertentangan, maka hal itu tidak keluar dari dua kemungkinan yaitu bisa jadi salah satu benar dan yang lain salah atau kedua-duanya salah, nah ini membuktikan bahwa akal manusia juga relative, olehnya itu menurut pyrho manusai tidak akan pernah mengetahui sesuatu yang mutlak benarnya (itupun kalau memeng ada).
Mari kita lihat tanggapan pemikir muslim dalam melihat masalah ini, akan tetapi pertama-tama kita akan mengkritik pendapat pyrho. Sewaktu dia mengatakan bahwa indra dan akal tidak bisa mengetahui realitas sebagaimana adanya, kita bisa bertanya dengan apa dia mengetahui bahwa indra dan akal itu kerap salah? Maka pasti jawabannya adalah dengan akal, kita bisa bertanya lagi apaka hal itu benar atau salah? Jika salah maka kita kembali ke pertanyaan pertama, tapi jika benar kita tanyakan lagi pakah dia benar atau relative? Jika relative maka hal ini tidak dapat dijadikan sebuah kesimpulan, tapi jika benar maka pyrho telah menggugurkan sendiri argumentasinya.
Kenapa rasio bisa mengetahui kalau pada saat tertentu dia berbuat kesalahan, itu karena pada rasio terdapat suatu fakultas yang berfungsi untuk menilai sesuatu itu benar atau salah dan dengan ini juga manusia bisa mengetahui realitas atau kebenaran yang pasti benarnya, sesuatu itu dalam filsafat islam disebut dengan “ AL-HALIYYATUL BASITH” atau dalam kajian logika Aristotelian dikenal dengan Prima Principia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar